Pengembangan prakarsa kemandirian bangsa harus didorong dengan cara
mengembangkan berbagai potensi masyarakat, memanfaatkan berbagai sumber daya
yang dimiliki dan mengoptimalkan hasil – hasilnya sehingga berbagai upaya
dimaksud harus berujung dan bertumpu kepada kesejahteraan rakyat, dan
kemakmuran daerah yang bersangkutan, berdasarkan sendi – sendi keadilan dan
pemerataaan.
Salah
satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah pengembangan sektor AGRO INDUSTRI, yang memang sudah merupakan ciri utama dan
mayoritas kehidupan masyarakat di negara kita, dimana sebagian besar
penduduknya bertempat tinggal di pedesaan dengan hidup mengandalkan dari sektor
pertanian dan dapat mengoptimalkan lahan – lahan yang belum maksimal produksi
sehingga apabila kegiatan – kegiatan tersebut tumbuh kembangkan oleh pemerintah
daerah dan masyarakatnya, akan diperoleh beberapa keuntungan seperti :
- Menurunkan angka Urbanisasi
- Terbukanya lapangan kerja baru di daerah asal
- Termanfaatkannya lahan – lahan yang belum optimal produksi
- Meningkatnya kesejahteraan masyarakat petani
- Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
Optimalisasi lahan – lahan yang belum dan dalam rangka membangun agro bisnis dan agro industri yang terintegrasi sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah, seperti yang dilakukan oleh PEMPROV. Banten dengan mengeluarkan PERDA Propinsi Banten No.11 tahun 2003 Tentang Pola Dasar Pembangunan Jangka Panjang Daerah Propinsi Banten 2002-2022 dimana di dalamnya memuat aspek mengembangkan sektor pertanian menuju agribisnis berbasis bioteknologi dan didukung industri-industri yang berbasis pertanian yang tangguh dan mandiri sebagai kegiatan ekonomi yang utama.
PERSAINGAN GLOBAL AKAN BAHAN PANGAN
Akibat dari penurunan produksi minyak bumi dan kenaikan harga minyak dunia yang semakin tinggi membuat banyak negara maju dan berkembang yang berusaha mencari sumber energi terbarukan berbahan dasar nabati seperti misalnya Bio Diesel dan Bio Ethanol. Produksi etanol dunia untuk bahan bakar diduga akan meningkat dari 19 Milyar liter ( 2001) menjadi 31 Milyar liter ( estimasi 2006). Beberapa Negara di Brasil, Amerika Serikat, Kanada. Uni Eropa dan Australia sudah menggunakan campuran 63% etanol dan 37% bensin.
Walaupun beberapa negara maju telah meneliti kemungkinan menghasilkan biofuel dari bahan non-pangan namun dengan tersedianya teknologi pengolahan yang murah dan bahan baku pangan yang melimpah saat ini tentu saja para pelaku industri biofuel tidak akan membuang – buang waktu untuk menunggu realisasi dari penelitian tersebut.
Dengan demikian maka secara otomatis kebutuhan akan bahan baku juga akan terdongkrak yang dapat berakibat terjadinya persaingan antara produsen bahan bakar dengan produsen bahan pangan dan ini tentu akan menyebakan kenaikan harga bahan pangan seperti yang telah terjadi pada Jagung, Gandum, CPO dan juga Singkong
I. AGRO INDUSTRI SINGKONG SEBAGAI SOLUSI
Indonesia sebagai negara agraris seharusnya dapat memanfaatkan momentum saat ini untuk mulai menggalakkan lagi sektor industri pertaniannya mengingat tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan lahan yang sangat besar serta didukung pula oleh ektor tenag kerja yang melimpah.
UNIDO (UN Industrial Development Organization) sudah sejak awal tahun 1980-an menerbitkan beberapa laporan tentang potensi singkong atau ubi kayu atau manioc, terutama di negara berkembang seperti di Indonesia yang memiliki lahan luas dan subur karena permintaan pasar produk singkong tersebut dalam berbagai bentuk, mulai dari bahan mentah, gaplek, tepung gaplek, tepung tapioka dan tentu saja sebagai bahan baku ethanol sangat tinggi
Singkong cukup potensial untuk dikembangkan karena singkong merupakan tanaman yang sudah sangat dikenal oleh petani dan dapat ditanam dengan mudah. Singkong juga merupakan tanaman yang sangat fleksibel dalam usaha tani dan umur panen. Lahan untuk tanaman singkong tidak harus khusus, dan tidak memerlukan penggarapan intensif seperti halnya untuk tanaman hortikultura lainnya, misal sayuran.
Ada lebih dari 30 jenis umbi-umbian yang biasa ditanam dan dikonsumsi rakyat Indonesia. Dibandingkan dengan padi, membudidayakan umbi-umbian itu jauh lebih mudah dan murah. Sebagai contoh, menanam ubi kayu secara intensif membutuhkan biaya hanya sepertiga dari biaya budidaya padi. Di sisi lain, kandungan karbohidrat umbi-umbian juga setara dengan beras.
Umbi-umbian itu kemudian dapat diproses menjadi tepung. Dalam bentuk tepung, umbi-umbian dapat difortifikasi dengan berbagai zat gizi yang diinginkan. Bentuk tepung juga mempermudah dan memperlama penyimpanan hingga dapat tahan berbulan-bulan, bahkan hingga tahunan. Selain itu, dalam bentuk tepung akan mempermudah pengguna mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan siap saji dan menyesuaikannya dengan selera yang disukai.
Teknologi pengolahan umbi-umbian menjadi tepung sangat sederhana dan murah. Dengan teknologi itu, usaha skala kecil-menengah mampu menghasilkan tepung dengan kualitas yang tidak kalah bagus dibandingkan tepung terigu yang diproduksi perusahaan besar
KADAR NUTRISI
Kandungan Nutrisi pada Ubi Kayu ( per 100 gram )
Kalori 146 kal
Air 62,5 gram
Phosphor 40 mg
Karbohidrat 34 gram
Kalsium 33 mg
Vitamin C 30 mg
Protein 1,2 gram
Besi 0,7 mg
Lemak 0,3 gram
Vitamin B1 0,06 mg
Berat dapat dimakan 75 gram